UID Workshop: Bijak Memilah Sampah, Ketahui Caranya

UID Workshop: Bijak Memilah Sampah, Ketahui Caranya

UID Bali Campus, Kura Kura Bali SEZ – United In Diversity (UID), bekerja sama dengan Kura Kura Bali, menyelenggarakan UID Workshop: Bijak Memilah Sampah, Ketahui Caranya! Pada Minggu, 19 April 2026 di UID Bali Campus. Workshop ini menghadirkan Gelgel Prawira, Project Manager Bali Waste Cycle, sebagai pembicara dan fasilitator.

Workshop ini dihadiri oleh 41 peserta yang terdiri dari ibu-ibu PKK, Kepala Lingkungan dari 7 banjar dan lingkungan, serta perwakilan pemerintah setempat dari Desa Serangan. Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh Lurah Serangan, Ni Wayan Sukanami, SE., MM.

Persoalan sampah di Bali berada di titik yang tidak bisa lagi diabaikan. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), jumlah sampah di Provinsi Bali pada tahun 2024 mencapai 1,2 juta ton per tahun. Sumber sampah didominasi dari kegiatan rumah tangga sebesar 64 persen. Sejak 1 April 2026, TPA Suwung resmi tidak lagi menerima sampah organik, dan hanya diperuntukkan bagi sampah residu. Kebijakan ini adalah langkah maju yang nyata — bagian dari transformasi besar pengelolaan sampah Bali dari pola kumpul-angkut-buang menuju pengurangan di sumber. Namun kebijakan baru ini membutuhkan ekosistem pendukung yang siap di lapangan, termasuk kesiapan dan kemampuan warga untuk memilah sampah dari rumah. Tanpa kapasitas tersebut, infrastruktur swakelola sampah kesulitan mengolah apa yang dijemput, dan hasilnya terlihat di lapangan: keterlambatan penjemputan, menumpuknya sampah di sisi jalan, hingga meningkatnya pembakaran sampah oleh warga dan sampah yang bermuara di saluran air. Dalam upayanya menanggulangi timbulan sampah, Ditambah sejak 1 April 2026, TPA Suwung tidak lagi menerima sampah organik dan hanya diperuntukkan bagi sampah residu, sebagai bagian dari transformasi sistem pengelolaan sampah dari pola kumpul-angkut-buang menuju pengelolaan berbasis pengurangan di sumber. Kebijakan ini penting dan mendesak, namun di lapangan transisinya tidak mudah. Penutupan tersebut memicu persoalan baru: antrean truk sampah yang memanjang, dan praktik pembakaran sampah oleh warga di beberapa wilayah. Sampah yang tidak tahu harus dikemanakan berakhir di pinggir jalan, di saluran air, atau dibakar. Ini terjadi karena ketidaktahuan dan ketiadaan sistem yang memadai di tingkat paling bawah. Isu ini semakin ramai diperbincangkan di berbagai kalangan, dan UID merasa terpanggil untuk berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran, khususnya di level komunitas yang paling dekat dengan sumber permasalahannya.

Pada 30 Maret 2026, UID juga menyelenggarakan UID Talk bertema Which One Matters the Most: Upstream or Downstream on Waste Management, yang menghadirkan Hermitianta Prasetya dari Merah Putih Hijau, Indra Leonardo dari FABATA, juga Gelgel Prawira yang menjadi pembicara dan fasilitator pada UID Workshop ini. Diskusi itu membuka percakapan yang lebih luas tentang di mana sebenarnya perubahan harus dimulai. Workshop pada 19 April ini adalah kelanjutan dari semangat yang sama, kali ini dengan pendekatan yang lebih praktis dan langsung menyentuh tingkat rumah tangga.

Workshop ini dirancang untuk mengubah cara pandang sekaligus cara bertindak. Gelgel Prawira memandu peserta memahami sistem pemilahan sampah yang sederhana namun berdampak besar: sampah organik untuk kompos atau biopori, sampah anorganik bernilai daur ulang untuk bank sampah, sampah residu untuk TPS, dan sampah B3 untuk pengepul khusus. Peserta juga diajak memahami kesalahan umum yang sering terjadi dalam pemilahan, mulai dari sisa makanan yang mencemari material daur ulang, hingga kantong plastik yang merusak mesin sorit. UID percaya bahwa perubahan nyata dalam pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan dari atas. Ia harus dimulai dari kesadaran di level individu, dari dapur, dari rumah, dari komunitas terkecil sekalipun.

Yang membuat workshop ini berbeda dari sekedar penyuluhan, seluruh peserta terlibat langsung dalam sesi praktik menggunakan dummy sampah dan contoh sampah nyata, menempatkan setiap jenis sampah ke kategorinya masing-masing secara langsung. Pilihan untuk mengundang warga Desa Serangan karena berbatasan langsung dengan kawasan Kura Kura Bali, dan ini sebagai bukti nyata kontribusi sosial UID dan Kura Kura Bali untuk wilayah di sekitar.

Bali Waste Cycle adalah salah satu inisiatif yang aktif mendorong pengelolaan sampah berbasis komunitas di Bali, dengan fokus pada daur ulang material anorganik dan edukasi pemilahan sampah di tingkat akar rumput. Kegiatan ini memperkuat komitmen UID untuk terus hadir dalam isu-isu yang paling dibutuhkan oleh masyarakat, terutama Bali saat ini.