Transformasi Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial di Kabupaten Tebo, Jambi

Transformasi Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial di Kabupaten Tebo, Jambi

Pada 2020, sebuah tim yang berdedikasi, tim Wildlife Conservation Area (WCA) mulai melibatkan diri secara lebih efektif dalam interaksi dengan komunitas orang rimba dan masyarakat lokal yang tinggal di dalam kawasan tersebut. Mereka juga dengan penuh tanggap menerima berbagai pandangan yang berbeda yang dikemukakan oleh orang rimba dan kelompok masyarakat di wilayah kerja PT Royal Lestari Utama (RLU). Tim WCA ini terbentuk pada 2018 dan terdiri dari 12 anggota, termasuk para Rangers, Community Liaison Officer, dan Team Leader.

Dahulunya, tim WCA menghadapi kendala dalam berkomunikasi dan memahami orang rimba serta masyarakat yang tinggal di area kerja PT RLU. Tim ini mengalami penolakan dari masyarakat saat mencoba menyampaikan informasi tentang kegiatan-kegiatan yang akan mereka lakukan. Hal ini terutama disebabkan oleh kurangnya kepercayaan masyarakat pada tim WCA, yang merupakan akibat dari pengalaman buruk dengan tim sebelumnya yang dianggap tidak memenuhi janji-janji sebelumnya.

Dengan bantuan kelompok Prototipe KEE Tebo, yang dipimpin oleh Karmila Parakkasi, tim WCA berhasil meningkatkan kemampuan mereka dalam mendengarkan dan berkomunikasi dengan baik dengan orang rimba dan kelompok masyarakat di wilayah tersebut. Proses ini berhasil membangun kembali kepercayaan orang rimba dan masyarakat sehingga mereka bersedia untuk berkolaborasi dengan tim WCA.

Pertemuan rutin yang diadakan oleh tim WCA mampu mendorong orang rimba dan masyarakat untuk berbicara tentang berbagai kekhawatiran dan masalah yang mereka hadapi. Ini termasuk masalah terkait legalitas tempat tinggal, konflik antara orang rimba dan gajah, pelestarian budaya, perlindungan kawasan, keselamatan pekerja, hingga pendidikan dan kesehatan. Pertemuan dan diskusi tersebut tidak hanya dilakukan secara komunal, tetapi tim WCA juga berhasil menjalin komunikasi individual dengan kepala dan anggota keluarga dari kelompok orang rimba dan masyarakat.

Pada 2022, sudah ada tiga kelompok orang rimba yang menerima bimbingan dari tim WCA dan secara teratur berinteraksi dengan mereka. Ketiga kelompok ini mencakup Tumenggung Bujang Kabut, Tumenggung Hasan, dan Tumenggung Buyung, yang mengetuai sekitar 33 kepala keluarga atau sekitar 144 individu. Selain itu, sebagai bukti kepercayaan orang rimba terhadap tim WCA, dua anggota kelompok orang rimba bahkan menjadi anggota aktif dalam tim WCA. Satu orang pertama masuk pada 2021 dan satu lainnya menyusul setahun berikutnya. Perangkat desa yang berada di wilayah kerja juga semakin aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh tim WCA. Selain itu, dukungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan organisasi Frankfurt Zoological Society (FZS) juga semakin kuat. Keduanya juga memberikan peningkatan kapasitas tidak hanya kepada tim WCA, tetapi juga kepada perangkat desa, komunitas orang rimba, dan masyarakat setempat.

Proses perubahan ini terus berkembang karena belum semua kelompok orang rimba dan masyarakat sepenuhnya menerima keberadaan tim WCA, dan membutuhkan waktu yang cukup untuk membangun kembali kepercayaan mereka sepenuhnya. Namun, setidaknya, dampak kerusakan yang dialami oleh masyarakat akibat konflik dengan gajah telah berkurang sebesar 50%, dan partisipasi kelompok masyarakat dan orang rimba yang mendukung mereka cukup tinggi. Karmila Parakkasi, yang rutin datang ke lokasi setidaknya sekali sebulan, terus memberikan bimbingan kepada tim WCA untuk menjaga kepercayaan kelompok orang rimba dan masyarakat serta menjalin komunikasi yang efektif untuk memahami kebutuhan mereka.

Perubahan ini memiliki dampak penting karena tim WCA memiliki peran kunci dalam mengurangi potensi konflik antara masyarakat, kelompok orang rimba, lingkungan, dan perusahaan. Secara jangka panjang, ini akan membantu mengembalikan kepercayaan orang rimba terhadap perusahaan. Komitmen untuk mengubah cara berkomunikasi dengan kelompok orang rimba dan masyarakat telah membantu membangun kembali kepercayaan mereka terhadap tim WCA, yang bertindak sebagai mediator antara kepentingan perusahaan dan kepentingan kelompok orang rimba dan masyarakat. Hal ini membantu meminimalisir potensi konflik dan memungkinkan penyelesaian konflik yang lebih baik.

Ketika mengembangkan desain prototipe ini, kelompok Prototipe KEE Tebo menyadari pentingnya merespons isu-isu terkait komunikasi, pendampingan, dan kepercayaan kelompok orang rimba dan masyarakat terhadap perusahaan. Ini merupakan tugas krusial tim WCA untuk memulihkan kepercayaan tersebut. Kelompok Prototipe KEE Tebo, yang terdiri dari tujuh orang, mulai memperkenalkan konsep dan pendekatan ini saat mereka mengikuti program BEKAL Pemimpin pada 2019.

Mereka memperkenalkan Teori U kepada tim WCA dan mendorong praktik mindfulness dalam setiap interaksi mereka dengan kelompok orang rimba dan masyarakat. Model Iceberg juga digunakan dalam diskusi untuk membantu tim WCA memahami isu-isu yang ada secara lebih mendalam dan merencanakan langkah-langkah ke depan. Selain bimbingan langsung oleh Prototipe KEE Tebo kepada tim WCA (yang bahkan tinggal bersama tim di lokasi), mereka juga menjalani diskusi virtual, terutama selama masa pembatasan aktivitas sosial akibat pandemi.

Kinerja luar biasa kelompok Prototipe KEE Tebo juga didukung oleh komitmen dari Dewan Direksi PT RLU untuk merekrut tim WCA sebagai karyawan tetap, sehingga memastikan keberlanjutan mereka dalam perusahaan. Selain itu, perusahaan secara rutin mengalokasikan anggaran untuk meningkatkan kapasitas anggota tim WCA setiap tahunnya. Salah satu faktor kunci lainnya adalah upaya PT. RLU untuk merekrut sumber daya manusia dari provinsi Jambi, yang bertujuan untuk meningkatkan rasa memiliki terhadap tim tersebut.

-----

Cerita ini merupakan salah satu cerita berseri mengenai perubahan yang diciptakan alumni BEKAL Pemimpin melalui prototipe yang diinisiasinya. Perubahan ini diidentifikasi dan divalidasi di tingkat lokasi dengan menggunakan metode The Outcome Harvesting. Cerita didapat melalui verifikasi dan diskusi langsung dengan pemangku kepentingan yang terlibat dalam implementasi prototipe, serta alumni terkait, untuk lebih memahami kisah perubahan mereka.