Pendidikan Berbasis Ekologi dan Kearifan Lokal
Pada 2021, Dinas Pendidikan dan stakeholder terkait di Kabupaten Purwakarta sadar akan pentingnya menerapkan pendidikan yang mengakar pada nilai-nilai lokal dan pembelajaran yang memperhatikan ekologi bagi para siswa. Pada 2015, Kabupaten Purwakarta telah menerbitkan Peraturan Bupati No. 69 Tahun 2015 tentang Pendidikan Berkarakter.
Namun, saat itu implementasinya masih terkendala karena perbedaan penafsiran di kalangan para pemangku kepentingan. Mochammad Rivan Efrizal, seorang alumni BEKAL Pemimpin 1.0, mulai mendampingi Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta melalui Dinas Pendidikan pada 2019. Ia memperkenalkan pendekatan permakultur dalam penerapan pendidikan berbasis ekologi di Purwakarta. Pendekatan ini dianggap sesuai dengan tujuan penerapan pendidikan berkarakter yang tercantum dalam peraturan Bupati.
Melalui pelatihan dan pendampingan yang dilakukan oleh Efrizal, Dinas Pendidikan membentuk tim untuk mengembangkan kurikulum pendidikan berbasis karakter ini di tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Pengembangan kurikulum ini mempertimbangkan falsafah pancaniti, yang mengikuti lima tahap: niti harti, niti surti, niti bukti, niti bakti, dan niti sajati. Falsafah ini memiliki kesamaan dengan empat pilar pendidikan versi UNESCO dan berfokus pada pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Kurikulum ini kemudian diimplementasikan di SMPN 10 Purwakarta sebagai sekolah percontohan. Tidak hanya itu, pelatihan dan pendampingan juga diberikan kepada setidaknya 17 sekolah dasar dan 17 sekolah menengah pertama di Purwakarta. Dengan cepat, kurikulum ini diterapkan, dan pada Maret 2022, Bupati Purwakarta mengeluarkan Peraturan Bupati No. 103 Tahun 2022 tentang Tatanen di Bale Atikan. Ini adalah gerakan pendidikan karakter yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran ekologis dalam merawat bumi dan mengintegrasikannya dalam pembelajaran berbasis pancaniti dan pertanian berbasis permakultur. Sehingga peserta didik tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat diri, kodrat alam, dan kodrat zamannya.
Perubahan ini sangat penting dalam proses menerapkan pendidikan berbasis lokal dan pembelajaran berbasis ekologi. Visi dan misi sebelumnya yang sulit diterjemahkan oleh unit pelaksana pendidikan di Kabupaten Purwakarta kini mendapat dukungan yang kuat. Perubahan yang dialami oleh pemangku kepentingan di Dinas Pendidikan dan para guru SD, SMP, dan PAUD dalam menerapkan pendidikan berbasis ekologi telah mendorong mereka untuk sepakat membentuk tim pengembang kurikulum demi memudahkan proses pengajaran kepada anak didik.
Hasil dari pengembangan kurikulum ini memungkinkan sekolah memiliki panduan yang lebih spesifik dalam menilai kemampuan siswa sesuai dengan nilai-nilai lokal. Selain itu, ketika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memperkenalkan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) pada Juni 2022, Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta tidak mengalami kesulitan berarti dalam menerapkannya karena mereka telah memiliki kurikulum pendidikan berbasis ekologi yang sesuai dengan ketentuan IKM. Saat ini, IKM di Kabupaten Purwakarta telah menggunakan pendekatan berbasis pendidikan Tatanan Di Bale Atikan (TDBA).
Kunjungan dari Kepala Pusat Penguatan Karakter Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ke Kabupaten Purwakarta mengkonfirmasi bahwa apa yang telah diterapkan melalui IKM sudah dilaksanakan sejak awal 2021. Efrizal memfasilitasi perubahan ini sejak awal 2020 dengan memperkenalkan pendekatan permakultur dalam penerapan pendidikan berbasis ekologi di Kabupaten Purwakarta.
Selain itu, Efrizal juga meningkatkan kapasitas kepala sekolah dan guru di beberapa sekolah percontohan dengan mengubah pola pikir mereka terkait pola pengajaran di sekolah. Ia tidak hanya memperkenalkan pendekatan baru, tetapi juga memberikan contoh penerapan praktik-praktik ekologis dalam mata pelajaran di sekolah.
Dalam memfasilitasi pengembangan kurikulum, Efrizal bertindak sebagai fasilitator dan mendorong para guru serta kepala sekolah yang terlibat untuk aktif berpartisipasi dalam diskusi tentang apa yang perlu dimasukkan dalam kurikulum. Hal ini membantu meningkatkan rasa memiliki mereka terhadap kurikulum dan memungkinkan mereka lebih paham dalam penerapannya. Kini, waktu pelajaran di sekolah telah diperpanjang untuk kegiatan ekologis seperti menanam, membuat kompos, dan pengembangan produk ekologis.
Perubahan ini juga didukung oleh komitmen kuat dari Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta yang terbukti melalui peraturan daerah yang dikeluarkan. Efrizal menyadari bahwa keberlangsungan program ini memerlukan regenerasi para champion yang berkomitmen untuk meneruskan program ini, terutama para Pengawas Sekolah yang dikuatkan kemampuannya untuk memahami pendidikan berbasis ekologi dan memantau pelaksanaannya di sekolah-sekolah. Ini untuk memastikan bahwa sistem pendidikan berbasis ekologi dapat berkelanjutan meskipun ada perubahan kepemimpinan di tingkat daerah.
-----
Cerita ini merupakan salah satu cerita berseri mengenai perubahan yang diciptakan alumni BEKAL Pemimpin melalui prototipe yang diinisiasinya. Perubahan ini diidentifikasi dan divalidasi di tingkat lokasi dengan menggunakan metode The Outcome Harvesting. Cerita didapat melalui verifikasi dan diskusi langsung dengan pemangku kepentingan yang terlibat dalam implementasi prototipe, serta alumni terkait, untuk lebih memahami kisah perubahan mereka.