Melajah Alam: Mengenalkan Konservasi Mangrove ke Sekolah Dasar di Bali

Melajah Alam: Mengenalkan Konservasi Mangrove ke Sekolah Dasar di Bali

Pada 2022, para tenaga pendidik di SD Negeri Budeng, Kabupaten Jembrana, Bali, telah mengembangkan pemahaman yang kuat tentang pentingnya konservasi tanaman mangrove, terutama di wilayah desa mereka yang memiliki luas area mangrove yang signifikan. Hal ini didukung oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Mertha di desa tersebut yang aktif terlibat dalam konservasi tanaman mangrove sejak 2017.

Perubahan ini memiliki dampak positif, memotivasi tim Melajah Alam yang dipimpin oleh Khesyia Abigail, alumni BEKAL Pemimpin 2.0 dan tim Mangrove Nusantara untuk mengembangkan modul pembelajaran pendidikan konservasi yang direncanakan akan digunakan sebagai tambahan media belajar bagi murid-murid sekolah dasar. Pihak KTH juga berkomitmen untuk mendukung pengembangan modul ini dan melihatnya sebagai alat untuk menyebarkan nilai-nilai konservasi melalui media sosial.

Proses pengembangan modul ini mulai diperkuat pada akhir 2021 dan mendapatkan dukungan penuh dari para tenaga pendidik di sekolah dasar tersebut. Kepala Sekolah dan para guru tidak hanya mendukung inisiatif ini, tetapi juga mendorong anak didik mereka untuk menerapkan dan menanamkan nilai-nilai konservasi sejak usia dini. Praktik perilaku konservasi alam pun mulai diterapkan di sekolah mereka, termasuk aspek perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan alam secara berkelanjutan.

Perubahan ini memiliki signifikansi besar karena mengungkapkan bahwa komunitas dan tenaga pendidik sebelumnya kurang memahami pentingnya pendidikan tentang konservasi mangrove. Akibatnya, mereka tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk memperkenalkan pentingnya dan manfaat konservasi mangrove kepada warga desa, khususnya anak-anak.

Tim Melajah Alam, yang dipimpin oleh Khesyia Abigail, bersama dengan enam anggota lainnya, aktif berinteraksi dengan para pemangku kepentingan terkait. Mereka tidak hanya berkomunikasi dengan pihak sekolah dan KTH, tetapi juga dengan Bappeda Jembrana, tim Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Turtle Conservation, serta komunitas lokal di Desa Budeng. Hasil dari diskusi dan dukungan mereka telah mengenrich proses pengembangan modul yang akan digunakan oleh sekolah.

Para pemangku kepentingan tersebut menyadari pentingnya memperkuat kesadaran konservasi pada generasi muda, mengingat kurangnya pemahaman yang dimiliki oleh tenaga pendidik di sekolah dasar terkait pendidikan konservasi. Mereka juga menyadari bahwa di Jembrana belum ada upaya konkret untuk memperkuat pendidikan konservasi. Dengan modul yang tersedia, mereka berharap ini akan menjadi langkah awal dalam mendukung edukasi konservasi alam bagi tenaga pendidik dan siswa, dan dapat mendorong pemerintah daerah untuk mengembangkan program jangka panjang dalam bidang ini.

Pentingnya kerjasama antara KTH dan sekolah dasar dalam mengenalkan anak-anak kepada praktik konservasi mangrove juga telah diakui oleh Kepala Desa Budeng. Ini memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengalami langsung dan memahami praktik konservasi mangrove. Selain itu, perubahan yang terjadi juga mendorongnya untuk memikirkan cara menjadikan KTH lebih mandiri dan berpotensi sebagai sumber pendapatan untuk desa di masa depan. Proses kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sudah dimulai dan saat ini dalam tahap diskusi mengenai peran dan tanggung jawab masing-masing pihak.

-----

Cerita ini merupakan salah satu cerita berseri mengenai perubahan yang diciptakan alumni BEKAL Pemimpin melalui prototipe yang diinisiasinya. Perubahan ini diidentifikasi dan divalidasi di tingkat lokasi dengan menggunakan metode The Outcome Harvesting. Cerita didapat melalui verifikasi dan diskusi langsung dengan pemangku kepentingan yang terlibat dalam implementasi prototipe, serta alumni terkait, untuk lebih memahami kisah perubahan mereka.