HATI Workshop: Memimpin dengan HATI

HATI Workshop: Memimpin dengan HATI

3 Mountains, KEK Kura Kura Bali – United In Diversity (UID) menyelenggarakan HATI Workshop: Memimpin dengan HATI pada Sabtu, 18 April 2026, di 3 Mountains, KEK Kura Kura Bali. Workshop ini difasilitatori oleh Shobi Lawalata, Direktur UID Bali Campus, dan diselenggarakan bekerja sama dengan Scholas Occurrentes

Workshop ini dihadiri oleh 45 siswa dan siswi dari tujuh SMA di wilayah Denpasar, Badung, dan Gianyar, yaitu SMAN 1 Sukawati, SMAN 1 Kuta, SMAN 1 Kuta Selatan, SMAN 1 Gianyar, SMAN 1 Kuta Utara, SMAN 2 Denpasar, dan SMAN 3 Denpasar. Seluruh peserta adalah anggota aktif organisasi siswa seperti OSIS dan MPK di sekolah masing-masing. Hadir pula Father Marcin Schmidt dari Vatikan, yang menutup sesi secara daring dengan refleksi tentang kepemimpinan Paus Fransiskus, khususnya tentang bagaimana mendengarkan menjadi inti dari cara beliau memimpin.

Di balik workshop ini ada keprihatinan yang tidak bisa diabaikan. Data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat kenaikan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan dari 285 kasus pada 2023 menjadi 573 kasus pada 2024, di mana sekitar 31 persen di antaranya berkaitan langsung dengan perundungan. Perundungan sendiri diketahui berkontribusi langsung pada krisis kesehatan mental yang tengah dihadapi anak muda di Bali. Data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri mencatat Bali menempati posisi ketiga dengan kasus bunuh diri terbanyak di Indonesia, dengan 638 kasus yang dilaporkan hingga 2024. Di kalangan remaja, situasinya tidak kalah mengkhawatirkan: survei Global School-Based Student Health Survey (GSHS) 2023 dilakukan pada pelajar usia 13-17 tahun di Sumatra, Jawa, dan Bali mencatat peningkatan persentase percobaan bunuh diri dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023, hampir tiga kali lipat dalam delapan tahun. Bali bukan pengecualian. UID percaya bahwa untuk mengubah budaya sekolah, pendekatan harus dimulai dari mereka yang sudah dipercaya memimpin di dalamnya.

Materi workshop berpusat pada dua kerangka: Theory U dari Otto Scharmer dan keteladanan kepemimpinan Paus Fransiskus. Peserta diajak menelusuri akar dari perilaku perundungan, bukan sekadar gejalanya, dan menemukan bahwa dalam kapasitas mereka sebagai pemimpin siswa, ada lebih banyak yang bisa dilakukan dari yang selama ini mereka bayangkan. Seperti yang disampaikan Shobi Lawalata, “Peran siswa pemimpin sangat penting untuk menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif, di mana semua bisa merasa diterima. Semoga melalui kegiatan ini, kita bisa ikut mewujudkan masa depan Bali yang kembali hidup dan berseri.”

Sebagai bagian dari sesi, peserta juga menyaksikan trailer film Aldeas, A New Story, proyek film Scholas Occurrentes yang diproduksi bersama sutradara Martin Scorsese. Film ini mendokumentasikan proses pembuatan film oleh komunitas-komunitas kecil di tiga negara, termasuk komunitas Genggelang di Lombok, Indonesia, di mana warga setempat menulis, memproduksi, dan menyutradarai cerita mereka sendiri. Film ini juga memuat percakapan mendalam antara Paus Fransiskus dan Scorsese, termasuk wawancara terakhir Paus Fransiskus di depan kamera. Scholas Occurrentes sendiri adalah organisasi internasional nirlaba berdasarkan hukum Kepausan yang didirikan oleh Paus Fransiskus pada 2013, dengan misi mentransformasi pendidikan dan mendorong inklusi sosial, dan kini hadir di 190 negara, mencakup lebih dari 400 ribu pusat pendidikan dan menjangkau lebih dari satu juta anak muda di seluruh dunia. Indonesia adalah negara pertama di Asia Tenggara yang bergabung dalam jaringan ini.

Salah satu bagian yang menarik pada kegiatan ini adalah sesi diskusi kelompok lintas sekolah. Peserta yang belum pernah saling kenal sebelumnya duduk bersama, berbagi cerita tentang kondisi di sekolah masing-masing, menjalin keterhubungan dan merumuskan ide-ide kreatif untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih inklusif melalui kepemimpinan mereka. Lebih dari sekadar pelatihan, banyak peserta mengaku kegiatan ini membuka cara pandang baru tentang apa artinya benar-benar memimpin. Workshop ditutup dengan kehadiran Mangku yang memberikan berkat dengan air suci kepada seluruh peserta, sebuah momen yang pas untuk menutup kegiatan ini yang bertepatan dengan Tumpek Landep, hari suci Hindu Bali yang secara filosofis merayakan ketajaman pikiran dan kejernihan hati. Sebuah pesan dari Father Marcin saat menutup kegiatan ini: “Untuk menjadi pemimpin yang berkesadaran, kita harus menyelaraskan kepala, hati, dan tangan. Saya percaya bahwa pemimpin baru tersebut adalah kalian, dari Bali lalu ke dunia.”