BEKAL Pemimpin: Catatan Bersama Dalam Petualangan Virtual ke Cianjur
Diskusi bermakna, sekaligus petualangan virtual ke Desa Cidadap, Cianjur, Jawa Barat telah berlangsung pada 1 Februari 2024 di Rumah Wijaya, Jakarta Selatan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi jembatan mengeksplorasi keindahan alam dan budaya setempat, tetapi juga menjadi wadah untuk menggali kearifan lokal dalam merawat Ibu Bumi melalui praktik baik pertanian berkelanjutan.
Melalui format hybrid, kegiatan ini mengundang partisipasi lintas fellows program UID dan mitra, memungkinkan mereka untuk merasakan dan memanen kebijaksanaan dari Desa Cidadap, yang berpotensi menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan lokal dalam pengelolaan sumber daya alam.
Membangun pertanian berkelanjutan yang selaras dengan Ibu Bumi memang bukan tugas yang mudah. Namun, berangkat dari langkah-langkah kecil, Fatoni Saputra dari Sekolah Tani Indonesia bersama dengan kelompok Tani Muda dan local champions, yang akrab disapa Kang Yayang, percaya bahwa harapan pertanian berkelanjutan bisa dihadirkan secara nyata. Mereka memulai dengan mengusung prototipe pertanian berkelanjutan di Desa Cidadap untuk menjawab sejumlah tantangan, salah satunya yakni mengenai minimnya minat generasi muda dalam pengembangan pertanian.
Fatoni menekankan peran penting generasi muda dalam menjaga dan mengembangkan sektor pertanian Indonesia. Dia percaya bahwa pemuda memiliki kontribusi signifikan dalam merawat dan memanfaatkan lahan pertanian yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh generasi sebelumnya.
Untuk mewujudkan hal ini, Fatoni mengajak para pemuda untuk memiliki kesadaran dan inisiatif dalam mengelola pertanian secara langsung dengan menggarap lahan, dan mengaplikasikan teknik pertanian yang berkelanjutan. Kesadaran dan partisipasi aktif dari generasi muda dianggap kunci untuk membawa sektor pertanian Indonesia menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan produktif.
Diskusi dan petualangan virtual ini menarik puluhan peserta dari berbagai daerah dan sektor, menghasilkan cerita inspiratif yang beragam. Di antaranya datang dari Kang Yoto, yang menggarisbawahi bahwa perbedaan pandangan dalam inovasi bukanlah hambatan, melainkan berkah yang mendorong terciptanya hal baru. Ia menekankan pentingnya inovasi sosial dalam pertanian, yang lahir dari perbedaan latar belakang para pengusungnya, untuk menghasilkan solusi kreatif bagi masalah sosial yang ada.
“Dalam konteks urgensi tata kelola pertanian, inovasi itu bukan tentang bagaimana ketersediaan dan kemandirian pangan melimpah tetapi tetap dapat membentuk kesejahteraan dan keseimbangan ekosistem yang harmonis bagi petani dan alam,” jelas Fatoni yang juga merupakan fellows BEKAL Pemimpin 2.0.
Babak Baru Pertanian Berkelanjutan
Desa Cidadap, yang terletak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, telah membuka lembaran baru dalam perjalanan menuju pertanian berkelanjutan. Pengalaman kekeringan yang pernah melanda desa ini, berdampak signifikan pada sektor agrarianya, menjadi titik tolak bagi perubahan fundamental dalam cara komunitas memaknai pertanian. Selain itu, dominasi pengepul yang menetapkan harga rendah untuk produk pertanian lokal menjadi tantangan yang serius, mendorong Fatoni dan Kang Yayang untuk mencari solusi inovatif yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani tapi juga menghormati prinsip ekologis.
Dengan semangat untuk membangun kesadaran tentang pentingnya ekonomi, ekologi, dan nilai-nilai berkelanjutan dalam pertanian, mereka mengambil langkah dengan memperkenalkan model pertanian yang beragam. Seperti sistem tumpang sari, misalnya, bukan hanya memperkaya keragaman panen tetapi juga memastikan keseimbangan alami lahan pertanian. Lebih dari itu, inisiatif ini memanfaatkan sisa limbah pertanian dan peternakan sebagai pupuk organik, sebuah praktek yang merawat tanah dan mengurangi limbah.
Dukungan Fatoni bersama kelompoknya dalam menyediakan pupuk organik telah membuka mata masyarakat terhadap potensi peningkatan produktivitas pertanian yang berkelanjutan. Petani di Desa Cidadap kini mulai menghidupkan kembali metode pertanian organik yang didasarkan pada kekayaan mikrobiologis lokal, berharap untuk mencapai kemandirian dalam menghasilkan pupuk dan komoditasnya sendiri, memanfaatkan "rezeki-rezeki" alami yang disediakan oleh Ibu Bumi.
Kang Yayang, secara khusus memilih tanaman seperti kumis kucing, kopi, terong, dan kacang panjang untuk diversifikasi produk pertanian desa. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan produk pertanian tetapi juga untuk mempromosikan pemanfaatan sumber daya lokal secara maksimal.
Pencapaian signifikan terjadi ketika masyarakat berhasil mengolah kumis kucing menjadi teh lokal otentik, sebuah contoh nyata dari inovasi yang berasal dari kearifan lokal. Selain itu, pembentukan lembaga penelitian tani lokal skala kecil menandai langkah maju, mengubah Desa Cidadap menjadi pusat riset pertanian yang berkelanjutan.
Inisiatif kolektif Desa Cidadap mencerminkan pergeseran paradigma dalam praktik pertanian, dari yang semata-mata fokus pada produktivitas menjadi yang berorientasi pada keberlanjutan, keadilan, dan keseimbangan ekologis. Melalui tindakan bersama ini, Desa Cidadap tidak hanya berjalan menuju era baru pertanian berkelanjutan tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda dan komunitas lain untuk mengadopsi pendekatan serupa dalam merawat tanah dan kehidupan yang bergantung padanya.
Berbagi Pandangan
Diskusi yang berlangsung membawa ke dalamnya pandangan beragam dari stakeholder penting, menyoroti dinamika antara tantangan dan peluang dalam mempromosikan keterlibatan generasi muda dalam pertanian berkelanjutan, terutama di tengah krisis iklim yang semakin mendesak. Moch Arief Cahyono dari Kementerian Pertanian menggarisbawahi pentingnya pemuda dalam memastikan ketahanan sektor pertanian, sedangkan Muhammad Burmansyah dari Pupuk Indonesia dan Grace Meyanti Putri dari Kementerian Desa PDTT menekankan inspirasi yang didapat dari Desa Cidadap sebagai model untuk praktek pertanian yang lebih berkelanjutan dan adil.
Dengan refleksi yang dibagikan oleh Niken Rarasati dari Goto Impact Foundation dan Ayu Nadiariyani dari Kementerian Agraria, terdapat pemahaman mendalam tentang kebutuhan akan perubahan pola pikir dan kolaborasi antar-sektor untuk memajukan pertanian berkelanjutan. Mereka berdua menyoroti pentingnya setiap suapan makanan sebagai ekspresi cinta terhadap Ibu Bumi, yang mengharuskan kita semua untuk bekerja sama dalam menjaga keseimbangan ekologis.
Petualangan virtual ini bukan hanya tentang mengeksplorasi keindahan dan kearifan lokal Desa Cidadap, tetapi juga merupakan kesempatan untuk mempertajam pemahaman tentang urgensi dan kebutuhan pertanian berkelanjutan. Cerita dan pengalaman yang dibagi dalam diskusi ini mengundang kita semua untuk merenungkan kembali hubungan kita dengan alam dan bagaimana setiap individu bisa berkontribusi menjaga keseimbangan ekologis demi masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Melihat Lebih Jauh
Pertemuan virtual di Desa Cidadap menjadi titik temu harapan, inovasi, dan kerja sama multisektoral dalam menghadapi tantangan pertanian modern. Dengan menekankan pentingnya kearifan lokal, teknologi, dan kolaborasi, acara ini membuka jalan baru untuk pertanian berkelanjutan yang menghormati dan merawat Ibu Bumi. Seperti kata-kata inspiratif dari para pembicara, perjalanan menuju pertanian berkelanjutan adalah perjalanan kolektif yang membutuhkan pertumbuhan kesadaran dan partisipasi dari semua pihak, termasuk generasi muda, pemerintah, industri, dan masyarakat luas.
Inisiatif di Desa Cidadap adalah bukti nyata bahwa dengan niat, inovasi, dan kolaborasi yang kuat, pertanian berkelanjutan bukan hanya mimpi. Langkah yang dilakukan oleh Fatoni dan Kang Yayang, bersama dengan dukungan dari berbagai stakeholders, menunjukkan bahwa pertanian yang menghormati alam dan keadilan sosial dapat menjadi kenyataan.
Pupuk organik, diversifikasi tanaman, dan pemanfaatan sumber daya lokal menjadi beberapa kunci dalam menghidupkan kembali pertanian organik yang berbasis pada kekayaan mikrobiologis lokal. Ini bukan hanya tentang menciptakan hasil panen yang melimpah, tetapi juga tentang membangun sistem pertanian yang harmonis dengan alam, yang pada gilirannya akan membawa kesejahteraan bagi petani dan masyarakat.
Kisah dari Desa Cidadap dan diskusi yang diadakan membuka perspektif baru tentang pentingnya memelihara hubungan simbiosis antara manusia dan alam. Konsep pertanian berkelanjutan yang dibahas bukan hanya teori, melainkan praktik nyata yang telah dan akan terus memberikan manfaat bagi banyak pihak.
Dari diskusi tersebut, jelas bahwa tantangan terbesar dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan adalah mengubah pola pikir masyarakat dari praktek pertanian konvensional yang hanya mengejar profit seketika menjadi pertanian berkelanjutan yang mempertimbangkan keberlanjutan alam dan keadilan sosial. Perubahan itu tentunya membutuhkan kerja sama, tidak hanya antara petani dan pemerintah, tapi juga melibatkan sektor swasta, akademisi, dan komunitas lokal.
Pada akhirnya, berbagai kisah yang terhubung saat petualangan virtual ke Desa Cidadap telah membuka mata banyak orang tentang pentingnya pertanian berkelanjutan dan bagaimana setiap individu dapat berkontribusi. Diskusi yang tercipta pada saat perjalanan virtual ini bukanlah menjadi akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk terus menggalakkan dan memperluas praktik pertanian berkelanjutan di Indonesia dan di seluruh dunia. Dengan berbagi pengetahuan, pengalaman, dan inovasi, kita dapat bersama-sama merawat Ibu Bumi dan menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan untuk generasi yang akan datang.